Mahasiswa Indonesia Perlu Mengadopsi "Work-Ethic" ala Jepang!

Gatot Suharjanto, Head of Product Design Engineering Program BINUS ASO School of Engineering (BASE) saat memberikan kuliah di hadapan mahasiswa-mahasiswanya

KOMPAS.com - Jepang terkenal dengan budaya disiplin yang kental di setiap sendi-sendi kehidupannya. Anak-anak Jepang diajarkan berdisiplin dan mandiri sejak dini, bahkan diadopsikan dalam sistem pendidikan formal di berbagai jenjang.

Itulah kunci kesuksesan Jepang mempertahankan dominasi ekonominya di dunia. Tak heran,  karena minimnya pengenalan tentang dunia kerja, para fresh graduate lulusan universitas di Indonesia mengalami culture shock saat pertama kali memasuki lingkungan kerja, terutama jika bekerja di perusahaan bertaraf internasional.
Hal paling sering ditemui adalah kesulitan mengaplikasikan pengetahuannya semasa kuliah dalam pekerjaan. Para sarjana tersebut juga kerap sulit membiasakan diri dengan kultur perusahaan tempat mereka bernaung. Ya, walaupun umumnya pengalaman kerja telah mereka peroleh saat menjalani program magang, ternyata waktu tiga bulan tidak cukup untuk mempelajari dan memahami semuanya.

"Orang Indonesia ramah dan baik hati. Tapi, memang, ketika berbicara kultur, kebanyakan mereka tidak terbisa untuk bekerja dan berfikir mandiri," tutur Tsuyoshi Ishizaki, Deputy Head of Pruduct Design Engineering Program Binus – ASO School of Engineering (BASE) saat ditemui KOMPAS.com, di Kampus Kijang Binus University, Senin (20/4/2015).

Ishi-Sensei, sapaan akrab Tsuyoshi Ishizaki, mencontohkan tentang perbedaan antara mahasiswa Jepang dan Indonesia ketika diberikan soal-soal pekerjaan rumah (PR). Jika diminta menyelesaikan soal nomor satu sampai sepuluh misalnya, mahasiswa Indonesia cenderung mengerjakan sesuai dengan jumlah yang diminta.
"Berbeda dengan mahasiswa Jepang. Mereka akan mengumpulkan tugas melebihi kuota dasar, misalnya, menyelesaikan 15 sampai 20 soal," ujarnya.
Selain itu, kebanyakan anak-anak Indonesia, masih menurut Ishi-Sensei, secara umum masih kurang menghargai waktu. Padahal di Jepang, efisiensi waktu sangatlah penting.
"Bagi mereka, waktu yang terbuang sia-sia sama saja dengan menghambur-hamburkan uang," kata Ishi-Sensei.


Work ethic
Head of Automotive and Robotics Engineering Program Binus – ASO School of Engineering (BASE), Sofyan Tan, solusi dalam pendidikan abad ini, terutama di perguruan tinggi di Indonesia, harus mulai memberikan pembekalan mental yang tepat untuk membangun jiwa-jiwa muda yang mandiri, terorganisasi, dan menghargai waktu. Kultur itulah yang tengah diadopsi oleh Binus–ASO School of Engineering (BASE) dalam perkuliahan sehari-hari.

"Itu yang membedakan kita dengan unit program lainnya. Kita terapkan beberapa work ethic yang bagus, misalnya 5S dan Kaizen," kata Sofyan. 

Work ethic atau etos kerja semacam itu, lanjut Sofyan, sebenarnya juga dikenal ada di negara-negara maju lainnya. Kaizen, misalnya, dikenal dengan istilah continuous improvement di Amerika Serikat. Namun, terlepas dari perbedaan istilah itu, inti pembelajarannya tetap sama.
 
Dalam pembelajaran sehari-hari, para dosen Binus – ASO School of Engineering (BASE) menerapkan work ethic tersebut. Contohnya, semua peralatan kelas memiliki tempatnya masing-masing, meja siswa pun sudah dibagi sesuai nama mereka, posisi meja dan kursi juga harus tepat.

Selain itu, mahasiswa BASE dituntut untuk datang tepat waktu. Hal ini terlihat sepele, tapi seperti yang dijelaskan oleh Sofyan, keamanan kerja sangat penting bagi seorang engineer.

Saat bekerja, kesalahan kecil dan sepele bisa berujung kepada kecelakaan, jadi mahasiswa BASE harus terbiasa dengan keteraturan dan tata tertib keamanan saat bekerja sejak dini. Dia berharap, ketika memasuki dunia kerja, para engineer muda BASE tidak kaget dan dapat menyesuaikan diri dengan lebih cepat. Apalagi, kelebihan lain BASE adalah jejaring cukup kuat dengan industri-industri manufaktur dari Jepang.

"Jadi, di semester enam nanti mahasiswa diwajibkan mengikuti summer course ke Jepang selama satu bulan untuk menambah pengetahuan bagaimana manufaktur di Jepang bekerja," tutur Sofyan.
 
Sofyan mengakui, mengubah kultur mahasiswa memang tidak mudah. Tapi, dengan pengertian, kesabaran dan pembiasaan, semua bisa dilakukan dengan hasil terbaik.

"Kami berharap kultur ini dapat melekat sampai mereka memasuki dunia kerja," ujarnya

Penulis: Adhis Anggiany Putri S
Editor : Latief

0 Komentar